Minggu, 21 Juni 2015

Tugas Akhirku




Model Identifikasi Risiko dan Strategi Peningkatan Nilai Tambah pada Rantai Pasok Kelapa Sawit

Rantai pasokan dalam industri minyak sawit terdiri dari petani, pedagang, pabrik minyak sawit mentah (CPO), pabrik pengolahan minyak (kilang), distributor dan konsumen. Kegiatan didalamnya dimulai dari para petani yang menjual tandan buah segar (TBS) ke para pedagag untuk kemudian dijual ke pabrik CPO. Di pabrik TBS diubah menjadi CPO yang kemudian dijual ke kilang. Kilang mengkonversi CPO menjadi minyak goreng untuk dijual ke konsumen.
Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengembangkan model yang ditujukan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan peringkat risiko, serta untuk mengidentifikasi dan peringkat strategi dalam meningkatkan nilai tambah mereka.
Penelitian dilakukan dengan cara mencari data yang diperoleh melalui wawancara langsung dan kuesioner. Responden dipilih dari para ahli dan pelaku industri kelapa sawit. Pengolahan data dengan menggunakan model Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP). Dari hasil pengolahan data dengan Model FAHP pertama menunjukkan bahwa dua risiko yang paling penting adalah rantai kesinambungan pasokan dan kualitas produk. Model FAHP kedua menunjukkan bahwa strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan nilai tambah bagi para pelaku industri kelapa sawit adalah dengan cara peningkatan pembangunan infrastruktur/kalster, diikuti dengan penggunaan bibit unggul dan teknik budidaya.
Suatu analisis diperlukan untuk mengidentifikasi dan menilai besarnya dampak dan kemungkinan dari risiko-risiko yang terjadi pada rantai pasok kelapa sawit. Berdasarkan hasil analisa risiko pada rantai pasok kelapa sawit yang teridentifkasi dari penelitian itu, terdiri atas beberapa risiko. Hasil dari pengumpulan dan pengolahan data, dapat ketahui tingkat risiko terpenting untuk tiap pelaku maupun untuk seluruh pelaku rantai pasok secara bersama berdasarkan daftar risiko yang teridentifikasi. Dengan demikian maka rantai pasok sebagai kesatuan dapat mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi atau menekan dampak buruk risiko-risiko secara bersama. Unsur-unsur ketidakpastian para pelaku atau aktor rantai pasok yang beragam dapat dipadukan secara harmonis. Para pakar ternyata secara konvergen memilih untuk mengatasi risiko pasokan yang tidak stabil serta memastikan untuk mendapatkan bahan berkualitas dan menghasilkan produk berkualitas.
Hasil dari penelitian tersebut yang paling tinggi dampak kemungkinan terjadinya suatu risiko yaitu risiko yang terkait dengan rantai pasok ini adalah risiko-risiko yang terkait dengan kesinambungan pasokan dan kualitas produk. Solusi yang diberikan sebagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh para pelaku industri kelapa sawit  untuk menangani risiko-risiko tersebut adalah dengan pemilihan alternatif strategi peningkatan nilai tambah rantai pasok. Pemilihan alternative ini ternyata konvergen kepada mutlak perlunya pengembangan klaster dan infra-struktur, hal mana mendukung terjadinya pasokan bahan dan aliran produk yang lancar. Pemilihan strategi kepada penggunaan bahan berkualitas dan menggunakan teknik budidaya dan produksi yang unggul akan mendukung terdapatnya bahan dan produk unggulan. Hal ini sejalan dengan hasil yang didapatkan pada bagian pertama yaitu perlunya mengatasi risiko kualitas.
Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilakukan identifikasi terperinci perihal langkah-langkah pencegahan dan mitigasi risiko. Selain itu perlu dilakukan perincian strategi peningkatan nilai tambah, yaitu dengan pengembangan klaster/infrastruktur serta peningkatan kualitas bibit dan budidaya yang unggul.

Sumber:
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/article/view/18535
  

Sabtu, 23 Mei 2015

Bahan Artikel



PENGARUH PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERBANKAN YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA



Dini Attar (Magister Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh)
Islahuddin, M. Shabri, (Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh)


Bank merupakan suatu lembaga yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana. Sebagai lembaga intermediasi, bank berperan penting dalam menghimpun dana dan menyalurkannya ke sektor riil dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi (Agent of Development). Perbankan juga berperan sebagai lembaga penyelenggara dan penyedia layanan jasa-jasa di bidang keuangan serta lalu lintas sistem pembayaran (Agent of Services). Dengan peranannya tersebut, bank menjadi suatu lembaga yang turut mempengaruhi perkembangan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, perbankan harus mampu mempertahankan kinerjanya agar dapat menjadi suatu industri yang sehat.

Purwanto (2011:3) menyebutkan ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank yaitu: melemahnya nilai tukar rupiah, lemahnya kondisi internal bank seperti manajemen yang kurang memadai dan pemberian kredit kepada kelompok atau group usaha sendiri telah mendorong tingginya risiko kredit macet, tingkat kompleksitas usaha yang tinggi akan meningkatkan risiko yang dihadapi oleh bank dan modal yang tidak dapat menutupi terhadap risiko-risiko yang dihadapi oleh bank tersebut menyebabkan kinerja bank menurun.
Menurut Darmawi (2011:16-18), ada beberapa risiko yang sering dihadapi bank antara lain: risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko operasional.

Oleh karena itu, setiap bank wajib memiliki manajemen risiko yang mampu mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko, sehingga segala macam risiko yang berpotensi untuk muncul dapat diantisipasi dari sejak awal dan dicarikan cara penanggulangannya.

Bahan Artikel



ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI KEAMANAN
DI PT.PUPUK SRIWIDJAJA DENGAN
FRAMEWORK COBIT 4.1


Ivan Harris(ivan.harris96@yahoo.com) Muara Laut Adong Tarigan (adongtarigan@yahoo.com), Suwirno Mawlan (Suwirno@stmik-mdp.net) Jurusan Sistem Informasi, STMIK GI MDP


Semakin berkembangnya kemajuan pada dunia Informasi dan teknologi berdampak kepada semua aspek di kehidupan manusia. Mulai dari pendidikan, bisnis, pemerintahan dan lainnya. Penerapan komputerisasi Pada awal tahun 90 an masih menjadi hal yang jarang dikembangkan pada banyak sektor dikarenakan
mahalnya biaya operasional dan rendahnya manfaat. Namun pada era milenium baru penerapan sistem komputerisasi mulai diterapkan pada banyak bidang dan berkembang dengan pesat. Berbagai sistem di kembangkan dengan menggunakan media komputer dan pendukungnya dan hal ini membuat sebagian besar sektor mulai mengembangkan sistem informasi pada proses bisnis yang dilaksanakan.

Salah satu aspek yang menjadi bagian penting dalam sistem informasi dan pengembangannya adalah aspek keamanan dan manajemen risiko. Dalam perkembangan sistem informasi saat ini, beberapa hal penting yang menjadi faktor penentu agar sistem yang berjalan dapat befungsi dengan baik dan benar. Selain efek positif yang muncul akibat berkembangnya sistem informasi maka permasalahan keamanan dan pengelolaan sumber daya TI juga terjadi.

Sebuah institusi atau lembaga yang menggantungkan sebagian besar proses bisnisnya pada sistem informasi akan mengalami kendala yang serius ketika sistem yang diterapkan tidak berjalan dengan semestinya.

Pada penelitian kali ini penulis melakukan sebuah kajian dan studi ilmiah tentang analisis manajemen risiko pada implementasi sistem informasi keamanan di sebuah perusahaan BUMN di Provinsi Sumatera Selatan yang bergerak pada bidang industri pupuk yaitu PT Pupuk Sriwidjaja (PT PUSRI). Metode penelitian yang digunakan adalah sebuah metode dari Information System Auditor and Control Association (ISACA) yaitu COBIT  FRAMEWORK 4.1.